Rumus Saham: Cara Mudah Menghitung Harga Saham
Rumus Saham: Cara Mudah Menghitung Harga Saham

Rumus SahamSource: bing.com

Investasi saham memang menjadi pilihan banyak orang karena potensi keuntungannya yang besar. Namun, investasi saham juga memiliki risiko yang tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk berinvestasi saham, penting untuk memahami bagaimana cara menghitung harga saham dengan benar. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan menggunakan rumus saham.

Apa Itu Rumus Saham?

Rumus saham adalah cara matematis yang digunakan untuk menghitung nilai intrinsik suatu saham. Dalam rumus ini, terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, seperti pendapatan perusahaan, arus kas, laba bersih, dan lain sebagainya. Rumus saham juga berguna untuk menentukan apakah suatu saham sedang dijual dengan harga yang wajar atau tidak.

Bagaimana Cara Menggunakan Rumus Saham?

Untuk menggunakan rumus saham, pertama-tama Anda harus mengumpulkan data-data yang diperlukan, seperti pendapatan perusahaan, arus kas, laba bersih, dan lain sebagainya. Setelah itu, Anda bisa menggunakan rumus saham yang tepat untuk menghitung harga saham. Berikut adalah beberapa rumus saham yang sering digunakan:

  • Rumus Price to Earnings Ratio (P/E Ratio)
  • Rumus Price to Book Value Ratio (P/BV Ratio)
  • Rumus Dividend Discount Model (DDM)

1. Rumus Price to Earnings Ratio (P/E Ratio)

Rumus P/E Ratio adalah salah satu rumus saham yang paling sering digunakan oleh investor. Rumus ini digunakan untuk menghitung harga saham berdasarkan rasio antara harga saham dan laba per lembar saham (EPS). Berikut adalah rumus P/E Ratio:

Cek Juga  Soal Osn Matematika Sd

P/E Ratio = Harga Saham / Laba Per Lembar Saham (EPS)

Contoh penggunaan rumus P/E Ratio:

  • Harga saham per lembar = Rp 10.000
  • Laba per lembar saham (EPS) = Rp 500

Maka:

P/E Ratio = 10.000 / 500 = 20

Dari hasil perhitungan di atas, dapat diketahui bahwa P/E Ratio saham tersebut adalah 20. Artinya, harga saham tersebut 20 kali lebih tinggi dari laba per lembar saham.

2. Rumus Price to Book Value Ratio (P/BV Ratio)

Rumus P/BV Ratio digunakan untuk menghitung harga saham berdasarkan rasio antara harga saham dan nilai buku per lembar saham. Berikut adalah rumus P/BV Ratio:

P/BV Ratio = Harga Saham / Nilai Buku Per Lembar Saham

Contoh penggunaan rumus P/BV Ratio:

  • Harga saham per lembar = Rp 10.000
  • Nilai buku per lembar saham = Rp 5.000

Maka:

P/BV Ratio = 10.000 / 5.000 = 2

Dari hasil perhitungan di atas, dapat diketahui bahwa P/BV Ratio saham tersebut adalah 2. Artinya, harga saham tersebut 2 kali lebih tinggi dari nilai buku per lembar saham.

3. Rumus Dividend Discount Model (DDM)

Rumus DDM digunakan untuk menghitung nilai intrinsik saham berdasarkan arus kas yang dihasilkan dari dividen yang dibayarkan perusahaan. Berikut adalah rumus DDM:

DDM = Dividen Per Lembar Saham / (K – G)

Keterangan:

  • K = Tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor
  • G = Tingkat pertumbuhan dividen

Contoh penggunaan rumus DDM:

  • Dividen per lembar saham = Rp 500
  • Tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor (K) = 10%
  • Tingkat pertumbuhan dividen (G) = 5%

Maka:

DDM = 500 / (0,1 – 0,05) = 10.000

Dari hasil perhitungan di atas, dapat diketahui bahwa nilai intrinsik saham tersebut adalah Rp 10.000.

Kesimpulan

Menggunakan rumus saham merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menghitung harga saham dengan benar. Namun, perlu diingat bahwa rumus saham tidak bisa dipakai secara universal untuk semua perusahaan. Setiap perusahaan memiliki karakteristik dan faktor yang berbeda-beda, sehingga rumus saham yang digunakan pun bisa berbeda-beda. Oleh karena itu, sebelum menggunakan rumus saham, pastikan untuk memahami karakteristik perusahaan terlebih dahulu.

Cek Juga  Apa yang dimaksud dengan metode evaluasi dengan analisis biaya-manfaat?

Pertanyaan yang Sering Diajukan

  1. Apa itu nilai intrinsik saham?
  2. Nilai intrinsik saham adalah nilai sebenarnya dari suatu saham yang didasarkan pada faktor-faktor fundamental perusahaan, seperti pendapatan, arus kas, dan laba bersih.

  3. Apakah rumus saham bisa digunakan untuk semua perusahaan?
  4. Tidak. Setiap perusahaan memiliki karakteristik dan faktor yang berbeda-beda, sehingga rumus saham yang digunakan pun bisa berbeda-beda.

  5. Apakah harga saham yang rendah selalu bagus untuk dibeli?
  6. Tidak selalu. Harga saham yang rendah bisa saja menunjukkan adanya masalah di perusahaan tersebut, sehingga perlu dilakukan analisis terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membeli saham.

  7. Bagaimana cara menentukan tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor?
  8. Tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor bisa ditentukan berdasarkan faktor-faktor seperti risiko investasi, tingkat inflasi, dan tingkat suku bunga.

  9. Apakah investasi saham selalu menguntungkan?
  10. Tidak selalu. Investasi saham memiliki risiko yang tidak bisa diabaikan, sehingga perlu dilakukan analisis dan manajemen risiko yang baik sebelum memutuskan untuk berinvestasi saham.

Related video of Rumus Saham: Cara Mudah Menghitung Harga Saham

By admin